Minggu, 17 Oktober 2021

Pengemis


Pengemis

Pengemis adalah orang-orang yang meminya-minta. Dulu mereka banyak kita jumpai di kota-kota besar, namun sekarang mereka hampir kita jumpai disetiap lampu merah walau di kota kecil. Kenapa jumlah mereka semakin banyak? Jawabannya karena mereka menjadikannya sebagai mata pencaharian. Mereka merasa bahwa mengemis merupakan lahan bisnis yang menjanjikan. Tanpa modal dan hanya berbekal rasa iba seseorang. Tidak butuh ijazah sekolah, tidak perlu bimbingan khusus dan bisa dilakukan oleh siapapun. Mungkin sebagian dari mereka butuh ketrampilan berakting. Tak jarang dari mereka yang dengan sengaja membuat dirinya terlihat memprihatinkan dengan berpura-pura cacat hanya untuk mencari simpati warga. Sehingga semakin banyak mendapatkan pundi-pundi uang. Ada juga yang dalam kegiatannya sengaja mengajak anak kecil yang masih balita, entah itu anaknya sendiri atau anak sewa seperti yang sering diberitakan di tv. Semuanya dengan tujuan mendapatkan uang yang lebih banyak. Anak-anak kecil juga mulai bertebaran disetiap lampu merah ataupun tempat-tempat umum yang terlihat ramai. Ada yang mengamen, ada juga yang meminta-minta.

Apakah keberadaan mereka mengganggu? Tentu saja hal itu sangat mengganggu. Terkadang hanya dengan menghabiskan waktu 30 menit disebuah warung makan atau mungkin pasar bisa sampai 5 pengemis atau pengamen yang menghampiri. Itu untuk di kotaku. Apalagi ketika di bulan Ramadhan, tidak perlu ditempat umum. Ketika kita berada dirumahpun hampir setiap hari datang lebih dari 5 orang pengemis. Mereka berasumsi karena Ramadhan adalah bulan penuh berkah, maka orang-orang akan berlomba-lomba beramal. Bahkan di hari Raya sendiri mereka masih door to door melaksanakan aksinya. Sungguh miris, karena hari suci yang dirayakan setahun sekali dimana orang-orang ingin berkumpul bersama keluarga. Mereka justru meminta-minta tentu saja asumsi mereka dengan datang di hari Raya maka pundi rupiah mereka akan sangat banyak. Disini ulasan saya tidak berlaku bagi pengemis yang memang pada dasarnya sudah sepuh (tua) yang memang ketika meminta adalah hal yang wajar bagi mereka. 

Untuk pengamen sendiri biasanya mereka hanya membunyikan tutup botol dan bernyanyi dengan suara yang tidak jelas. Kebanyakan yang saya temui seperti itu. Tidak masalah ketika kita membagikan sedikit rejeki atau banyak pada mereka yang memang pantas. Ada beberapa pengamen yang memang mempunyai kemampuan seni, suaranya enak didengar, membawa alat musik yang menambah nilai plus ketika dimainkan. Orang-orang seperti ini biasanya jalan tak sendiri. Terkadang berdua, bertiga ataupun kelompok yang biasa masuk di bus-bus umum. Tetapi tetap ada juga yang sendiri yang suaranya juga enak. Untuk mereka-mereka yang berkesenian, keberadaannya tentunya tidak mengganggu tapi justru menghibur. Tapi mereka yang mengganggu adalah orang-orang yang masih muda tapi selalu menengadahkan tangan di bawah dan menjadikan meminta sebagai mata pencahariannya. Kata yang cocok bagi mereka yaitu PEMALAS.

Ada lagi yang lebih parah yaitu mereka yang berpura-pura meminta sumbangan atas nama sebuah yayasan ataupun masjid demi mendapatkan uang. Hanya bermodal kertas, kotak sumbangan dan pakaian gamis mereka akan melaksanakan aksinya. Mungkin rupiah yang didapatkan juga lebih besar. Jika meminta atau mengamen mungkin ada nominal terkecil 500; yang mereka dapatkan, namun ketika berkedok sumbangan tentunya nominal 500; pastilah tidak ada. Untuk mengerjai mereka sekali-kali cobalah menanyai alamat lengkap dari yayasan ataupun masjid yang dia mintakan sumbangan. Berpura-puralah anda juga berasal dari daerah yang sama, jika mukanya pucat dan bingung maka bisa dipastikan kalau orang tersebut penipu. 

Para pengemis kini justru semakin menjadi-jadi. Badan tinggi, besar, muda, gemuk, berpakaian bagus, berdandan cantik, membawa tas bagus tanpa rasa malu sudah berani memulai pekerjaannya. Trik baru dari mereka sekarang, setiap datang kerumah orang dia akan memberikan salam "Assalamualaikum". Ternyata hal itu bukan tanpa sebab. Didaerah perkotaan kebanyakan rumah berpagar dan ketika pengemis datang kebanyakan dari mereka tidak peduli dan berpura-pura tidak ada orang dirumah. Tapi ketika mereka mengucap salam, otomatis jika ada penghuni dirumah, reflek mereka akan membalas salam mereka dan bergegas keluar. Kalau sudah ada suara atau sudah keluar masak sih gak mau kasih cuan, hehehe.......

Pernah lihat berita-berita di tv yang pernah memberitakan penghasilan para pengemis dan pengamen per harinya gak. Perolehan mereka bisa melebihi gaji PNS ataupun karyawan swasta. Tidak jarang dari mereka bahkan berangkat mengemis dengan diantar mobil. Astaghfirullah......
Semoga kita dan anak cucu kita dijauhkan dari sifat pemalas. Amiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cinta sehidup semati

Bapak..... Ibu.... Aq tidak mengenalmu dari kecil Tapi aq sdh menganggap kalian seperti orang tuaQ, seperti kalian yg tulus mencintai kami S...