Rabu, 06 Oktober 2021

Sebuah definisi Cinta (karya anonim yang pernah saya baca dan menyentuh hati saya)


2 sahabat wanita bertemu sesudah bertahun-tahun terpisah. "Bagaimana kabar Putra mu?", tanya yang satu. "Putraku?" Kasihan dia!" Jawab yang lain mengeluh. "Ia menikah dengan seorang gadis yang tak mau bekerja sedikitpun, tak mau memasak mencuci dan membereskan rumah. Yang dilakukannya hanya makan dan tidur. Anakku yang malang bahkan harus mengantar sarapannya ke tempat tidur. Apa kamu bisa percaya itu?". Kasihan! Dan bagaimana putrimu?" Oh ia itu sungguh beruntung! Ia menikah dengan malaikat yang tak membiarkannya mengerjakan apapun. Ia punya banyak pembantu untuk memasak, mencuci dan membereskan rumah. Dan setiap pagi suaminya mengantarkan sarapan ke ranjang. Yang ia kerjakan hanyalah tidur, beristirahat dan bersantai-santai sepanjang hari. Apa pendapat Anda? Ternyata sesuatu yang persis sama dapat dilihat dari sudut pandang yang sama sekali berbeda, tergantung pada posisi dan kepentingan kita sendiri. Kita memang cenderung mementingkan diri sendiri dan selalu melihat sesuatu dari kepentingan kita. Bahkan, baik-buruk suatu peristiwa sangat tergantung pada terganggu tidaknya kepentingan kita. Inilah sumber segala permasalahan yang kita hadapi. Perubahan besar, revolusioner dan menakjubkan akan terjadi begitu kita mampu melihat sebuah masalah dari sudut pandang orang lain, terutama dari sudut pandang pihak-pihak yang berseberangan dengan kita. Cinta adalah kemampuan kita melihat dari sudut pandang orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain, bahkan menghayati suasana kehidupan orang lain. Definisi ini sangat sederhana tetapi amat sulit dipraktekkan. Yang pertama harus kita kalahkan adalah ego. Kita sering menganggap penderitaan kita sebagai masalah terpenting di dunia. Misalnya, Anda sedang menderita sakit gigi, sementara di saat yang bersamaan banyak orang tertimpa musibah banjir tanah longsor, gempa bumi dan sebagainya. Pertanyaannya masalah apakah yang menurut anda paling penting? Tentu sakit gigi Anda bukan? Jadi pertama-tama, kita harus menyadari kecenderungan kita yang selalu menganggap masalah kita sendiri sebagai masalah terpenting. Hal ini tak akan pernah melahirkan cinta. Cinta hanya dapat lahir dari kesadaran bahwa masalah yang dihadapi orang lain juga amat sangat penting. Kita harus mampu merasakan, menyelami dan menghayati situasi orang lain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cinta sehidup semati

Bapak..... Ibu.... Aq tidak mengenalmu dari kecil Tapi aq sdh menganggap kalian seperti orang tuaQ, seperti kalian yg tulus mencintai kami S...