Perfeksionis
Perfeksionis berasal dari kata perfect yang artinya tanpa cacat ataupun sempurna. Perfeksionis merupakan orang-orang yang bekerja dengan sangat keras (workaholic) dan mendambakan kesempurnaan. Padahal tidak ada manusia yng sempurna kan. Teman-teman ada yang merasa punya sifat seperti pengertian diatas gak? Atau mungkin orang terdekat anda? Kalau menurut saya pribadi sifat perfeksionis seseorang tidak selalu terjadi dalam setiap hal atau kegiatan. Sifat tersebut bisa saja terjadi dalam bidang-bidang tertentu. Seperti contoh ibu saya, saya mengklasifikasikan ibu saya adalah orang yang perfeksionis, tapi tidak dalam semua hal. Yang menonjol adalah dalam bidang perdapuran, atau penyajian suatu makanan atau apapun yang akan dinikmati orang lain. Kenapa saya bilang seperti itu, sebagai contoh disetiap acara hajatan besar ataupun kecil yang pernah diadakan dirumah saya. Sudah sewajarnya kalau anggota keluarga seperti saya sebagai anak ikut membantu, tetapi disini ketika saya membantu mengiris bawang itu akan selalu saja ada yang salah. Secara saya adalah ibu-ibu dengan dua anak, dan hanya mengiris bawangpun saya disalahkan. Tidak hanya saya, hampir semua yang ikut membantu pasti terlihat kurang baik. Petik sayur kangkung masih salah, hanya naruh ikan di kardus tetap posisinya kurang sempurna. Selalu saja ada celah di setiap apapun yang kami kerjakan. Bahkan ketika memasukkan kardus yang sudah tersusun rapi dan sudah masuk plastik, akan selalu ada keragu-raguan dan mencari berbagai alasan untuk kembali mengecek plastik-plastik tersebut. Kecuali kalau waktu sudah sangat terbatas untuk melakukan hal tersebut. Tapi hanya sebatas bidang itu, untuk yang lainnya tidak.
Dan sepertinya hal ini sedikit menurun pada saya. Tapi saya dalam hal pelajaran sekolah. Dari jaman saya SD sampai dengan perguruan tinggi dan sampai sekarang anak saya kelas 4 SD, ada kebiasaan yang selalu saya lakukan. Disetiap waktu ulangan saya selalu merangkum semua pelajaran sekolah saya. Yang tidak tau dikira persiapan contekan, padahal itu cara saya belajar. Meskipun yang dituliskan guru sudah dalam bentuk rangkuman, saya akan tetap mempunyai bentuk rangkuman tersendiri. Tidak tau juga menurun dari siapa karena kakak-kakak saya juga tidak seperti itu. Dan karena terbiasa sejak kecil, maka menjadi kebiasaan. Terkadang karena sesuatu hal sehingga belum sempat belajar, meskipun waktu tinggal sedikit saya akan tetap merangkum. Karena secara gak langsung dengan menulis itu saya bisa sambil menghafal. Saya lebih mudah menghafal dengan menulis. Dan ketika sekolah anak saya online, ada banyak guru yang kurang bertanggung jawab akan tugasnya yang tidak pernah kasih materi dan hanya mengerjakan latihan soal dan soal. Disitu mulai kelas 1 sudah terbiasa saya rangkumkan ketika mendekati ulangan. Ketika tanya jawab soalpun lebih mudah bagi saya menjawabnya (padahal yang ulangan anak saya😂). Dan ketika menulis rangkuman saya tidak akan membiarkan ada coretan sedikitpun dikertas saya. Jika ada tipe x tidak masalah, tapi pernah tulisan selembar full dan ternyata dibawah banget keliru. Harusnya bisa dicoret, tapi ada bagian hati saya yang tercabik-cabik ketika melihat coretan itu. Jadi saya akan dengan senang hati menulis lagi meskipun capek dan butuh waktu. Entah itu bagian dalam perfeksionis atau bukan.
Orang perfeksionis akan susah percaya pada orang lain, dalam bidang yang dia tuntut sempurna. Orang perfeksionis menetapkan standart yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain. Orang yang perfeksionis akan memastikam semua berjalan sesui dengan keinginannya. Jika tidak sesuai maka ia akan terus memperbaikinya hingga benar-benar sempurna dalam kacamata penglihatannya.
Apapun itu sifatnya jika tidak merugikan orang lain dan kita bisa mengendalikannya biarkan saja, namun jika bisa merugikan orang lain semisal menyinggung orang lain maka segera instropeksi diri.
Salam Perfect😘
Tidak ada komentar:
Posting Komentar